Iman Kepada Hari Berbangkit, Fondasi Tawakal Kehidupan

Dalam Islam, kebaikan dan keburukan pasti berbalas. Akan tetapi, tidak semua kebaikan dan keburukan dibalas di dunia. Dalam Islam, konsep seperti karma tidak bisa berlaku.

Secara singkat, karma meniscayakan adanya reinkarnasi (raj’ah) di kehidupan selanjutnya untuk mendapatkan akibat dari sebab yang ia usahakan di kehidupan sebelumnya. Karma adalah hukum sebab akibat (causality/the law of case and effect) tanpa adanya campur tangan penguasa atau raja.

Contoh dari pemahaman karma ini adalah, saat manusia terlahir sebagai orang miskin atau ia hidup susah, itu bukan hukuman dari Tuhan. Melainkan akibat perilakunya di kehidupan sebelumnya. Jadi, selama karma masih bersama kehidupan, senantiasa akan ada kehidupan berikutnya (Punarbhawa), dan kematian merupakan akhir yang sementara. Jika kekuatan karma yang baik sudah membaku disebut guna, akan memancar berwujud ‘aurora’.

Disebutkan sebuah kutipan dalam Slokantara 68, ‘Karma phala ngaranika phalaning gawe hala hayu’ yang artinya: Karma pahala itu namanya hasil perbuatan baik buruk. (Materi Pokok Pendidikan Agama Hindu, I Ketut Bantas dan I Nengah Dana, 149)

Dan ‘Anakaranam katham karyam samsaretra bhavisyasti’yang artinya: Mungkinkan sesuatu perbuatan tiada sebab (dan akibatnya) di dalam lingkungan samsara (lahir dan mati) di sini. (Panca Craddha, I. B. Oka Punyaatmadja, 58)

Jika orang berbuat baik dan buruk harus menemui akibatnya di dunia, tentu akan panjang usia dunia. Mengingat, semua orang pasti pernah berbuat salah, tidak ada yang sempurna.

Apakah semua manusia harus dihidupkan lagi di kesempatan berikutnya, sedangkan dunia harus berakhir dengan Kiamat? Apakah hari berbangkit?

Selain itu, keyakinan tentang konsep karma mengharuskan untuk tidak percaya hari Kiamat dan hari berbangkit.

Iman Kepada Hari Akhir dan Hari Berbangkit

Percaya kepada hari akhir dan hari berbangkit adalah keyakinan mendasar dan menjadi pokok akidah Islam. Tidak ada yang mengetahui kapan Kiamat dan kapan hari berbangkit (yaum ba’ts).

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan urutan kehidupan yang bakal dilalui manusia,

Pertama, (dār al-ūlā) saat berada di rahim ibu. Di ruang yang sempit dan dalam tiga lapis kegelapan (zhulumāt ats-tsalāt): kegelapan perut ibu, kegelapan rahim ibu, dan kegelapan selaput penutup janin.

Kedua, kehidupan dunia. Tempat manusia akan bertumbuh, kehidupan yang menjadi bakal kebahagiaan atau kesengsaraan.

Ketiga, kehidupan barzakh. Lebih luas dan lebih besar daripada kehidupan di dunia. Namun, penisbatannya seperti kehidupan dunia dibanding kehidupan di rahim ibu.

Keempat, kehidupan selamanya (dār al-Qarār). Kehidupan di surga atau di neraka yang mana tidak ada kehidupan lagi setelah fase ini. (Rūḥ, Ibnu al-Qayyim, 116)

Setiap manusia akan diberi kesempatan hidup di dunia untuk mengumpulkan bekal. Kelak, seusai mati, ia akan menerima akibat dan pahala dari perilaku dan tingkah lakunya selama di dunia. Selama di dunia, mungkin sebagian orang sudah menerima sebagian akibat dari perbuatannya, tetapi penyempurnaan pahala akan didapat pada hari Kiamat.

Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *