Dalam pandangan Islam, hujan bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan rahmat dan keberkahan yang Allah turunkan dari langit.
Al-Quran menyebutnya sebagai air yang penuh berkah (mâ’an mubârakan), yang dengannya Allah menghidupkan bumi yang mati, menumbuhkan tanaman, serta menjadi sumber kehidupan bagi seluruh makhluk.
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ
“Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen.” (QS. Qaf: 9)
Meskipun kenyataan, Allah juga menjadikan rahmat-Nya ini sebagai hukuman dan teguran bagi hamba-hamba yang durhaka kepada-Nya.
Sebagaimana riwayat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam begitu khawatir dengan mendung hitam, beliau khawatirkan itu adalah azab.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat mendung atau angin, maka raut wajahnya pun berbeda.”
Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah,jika orang-orang melihat mendung,mereka akan begitu girang.Mereka mengharap-harap agar hujan segera turun. Namun berbeda halnya dengan engkau.Jika melihat mendung,terlihat wajahmu menunjukkan tanda tidak suka.”
Beliau pun bersabda, “Wahai ‘Aisyah,apa yang bisa membuatku merasa aman? Siapa tahu ini adalah azab. Dan pernah suatu kaum diberi azab dengan datangnya angin (setelah itu). Kaum tersebut (yaitu kaum ‘Aad) ketika melihat azab, mereka mengatakan, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.’” (HR. Al-Bukhari no. 4551; HR. Muslim no. 899)
Dalam riwayat disebutkan Umar bin Abdul Aziz berada dalam suatu perjalanan bersama Sulaiman bin Abdul Malik.
Tiba-tiba mereka ditimpa hujan yang disertai petir, kilat, kegelapan, dan angin yang sangat kencang, hingga mereka merasa ketakutan karenanya. Namun, Umar bin Abdul Aziz justru tertawa.
Maka Sulaiman berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu tertawa, wahai Umar?! Tidakkah engkau melihat keadaan yang sedang kita alami?”
Umar menjawab, “Wahai Amirul Mukminin! Ini adalah bagian dari rahmat-Nya, yang di dalamnya saja terdapat kesulitan seperti yang engkau lihat. Maka bagaimana kiranya dengan dampak dari kemurkaan dan murka-Nya?” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, 5/201)
7 Doa Turun Hujan Sesuai Sunnah
Di antara adab ataupun anjuran yang harusnya dijaga seorang muslim ketika turun hujan adalah doa.
Berikut ini beberapa doa yang dianjurkan berkaitan seputar hujan. Mulai dari saat melihat mendung, saat hujan, hingga ketika hujan selesai.
1. Doa Ketika Melihat Mendung dan Awan Hitam
Dalam hadits yang diriwayatkan Ibunda Aisyah, beliau menjelaskan,
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika melihat awan hitam di langit, beliau langsung meninggalkan pekerjaan, meskipun beliau sedang melakukan shalat. Setelah itu, beliau berdoa,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا.
Allâhumma innî a’ûdzu bika min syarrihâ
‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan awan ini.’” (HR. Abu Daud no. 5099)
2. Doa Turun Hujan agar Bermanfaat (Doa Utama)
Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat hujan, maka beliau berdoa,
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا.
Allâhumma shayyiban nâfi’an
‘Ya Allah, jadikanlah hujan ini bermanfaat.’” (HR. Ahmad no. 24144)
3. Doa Meminta Diturunkan Hujan
Terdapat juga doa ketika hujan yang turun sedikit atau bahkan tidak sama sekali.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, beliau berkata, “Sesungguhnya seorang laki-laki masuk pada hari Jumat melalui pintu yang menghadap mimbar, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berdiri menyampaikan khotbah Jumat.
Ia lalu menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, hewan-hewan ternak telah binasa,dan jalan-jalan terputus,maka berdoalah kepada Allah agar Dia menurunkan hujan kepada kami.’
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengangkat kedua tangan beliau seraya berdoa,
اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا.
Allâhummas-qinâ, Allâhummas-qinâ, Allâhummas-qinâ.
‘Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.’” (HR. Al-Bukhari no. 967)
4. Doa Turun Hujan yang Disertai Angin Kencang
Jika hujan juga disertai angin kencang, maka juga dianjurkan untuk membaca doa yang diriwayatkan juga oleh Ibunda Aisyah.
Beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat angin kencang, beliau berdoa,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا، وَخَيْرِ مَا فِيْهَا، وَخَيْرِ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ.
Allâhumma innî as-aluka min khairihâ, wa khairi mâ fîhâ, wa khairi mâ ursilat bihi, wa a‘ûdzu bika min sharrihâ, wa sharri mâ fîhâ, wa sharri mâ ursilat bihi.
‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang dengannya ia diutus. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburukan yang ada di dalamnya, serta keburukan yang dengannya ia diutus.’” (HR. At-Tirmidzi no. 3449)
5. Doa Ketika Mendengar Guntur dan Petir
Dari Abdullah bin az-Zubair bahwa beliau apabila mendengar suara petir, beliau menghentikan pembicaraan lalu berdoa,
سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ.
Subḥāna alladzī yusabbiḥu ar-ra‘du biḥamdihī, wal-malā’ikatu min khīfatihī
“Mahasuci Allah yang petir bertasbih dengan memuji-Nya, dan para malaikat (juga bertasbih) karena takut kepada-Nya.”
Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya ini adalah ancaman yang sangat keras bagi penduduk bumi.” (Al-Bukhari, Adab al-Mufrad, no. 723)
6. Doa Agar Hujan Berhenti dan Cuaca Cerah
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa,
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا. اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ، وَالْآجَامِ وَالظِّرَابِ، وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ.
Allâhumma ḥawâlainâ wa lâ ‘alainâ. Allâhumma ‘alal âkâmi wal jibâli, wal âjâmi, wazh zhirâbi, wal audiyati, wa manâbitisy syajari.
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke perbukitan, pegunungan, tempat-tempat yang ditumbuhi pepohonan lebat, dataran tinggi, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR. Al-Bukhari no. 967)
7. Doa Setelah Hujan Reda
Disunahkan untuk banyak bersyukur setelah selesai turun hujan. Di antaranya dengan melafazkan doa,
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ.
Muthirnâ bi-fadhlillâhi wa raḥmatihî.
“Kami diberi hujan dengan karunia Allah dan rahmat-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 810; HR. Muslim no. 71)





Leave a Reply